Asrul : kata-katamu hanya menjadikan kemiskinanku terasa menyakitkan
Azzam : bang, orang yang ikhlas akan lebih menghargai apa yang ia miliki dari pada apa yang tidak ia miliki…
baik-baik, saya paham apa yang ingin abang sampaikan…maafkan,  saya akan lebih berhati- hati dengan kata-kata saya
(menoleh ke istri dan anak2 asrul)
Azzam : mbak..adik-adik saya permisi dulu..assalamualikum
Asrul : waalaikumsalam (dengan menaham geram)
(azzam masuk mobil dan membuka kaca)
Azzam : bang, pernah mencoba tidur di kolong jembatan?..saya pernah 5tahun hidp di bawah kolong jembatan..dulu kami sering hampir terbawa banjir..saat anak2 seusia saya sudah belajar membaca dan berhitung…saya masih buta huruf…dan kami menunggu 5 tahun hingga allah swt mengangkat derajat kami..

[potongan dialog salah satu episode PPT1 dengan beberapa perubahan mengikuti kemampuan mengingatku]

Setiap orang seringkali melupakan kondisi orang2 di bawah kondisi mereka…kita hanya mampu melihat sesuatu dari hasrat tertinggi yang kita ingin capai..terkadang kita lupa bahwa kondisi seseorang adalah gabungan ikhtiar dan ketetapan allah yang berjalan beriring dan menjadikan kehidupan ini sebagai sarana untuk menyatukan kelemahan manusia dan keMaha segalaan Sang pemilik kehidupan…
Seringkali kita tidak mampu mendefinisikan sekenario kehidupan kita dan terpuruk mencela segala kekurangan yang ada pada diri kita. Kita sering kali lupa di balik kekurangan yang melingkupi kehidupan allah tetap memberikan kelapangan dan rizki yang mngkin karna seringnya kita menerimanya maka kita anggak sebagai kewajarn dan biasa. Padahal kenikmatan dalam kehidupan yang selama ini ikita lalui adalah bentuk kasihsayang Allah pada manusia..
Pikiran dan hatiku smpat tersentak kembali saat melihat dan mendengan fragmen episode diatas tersebut. Kemiskinan yang menyakitkan bagi sebagian orang adalah sebuah tahapan kesadaran yang dilalui untuk menunggu momentum allah meninggikan derajat nya di masa berikutnya…niali keikhlassan yang sering dilupakan menyebabkan segala ketetapan yang kurang di nilai sebagai sebuah siksaan yang tidak menyakitkan…namun bagi manusia yang mampu memahami bahwa perjalanan kehidupan dari minimnya kelimpahan (dalam standar manusia) adalah kesempatan dari allah untuk manusia belajar menghargai rizki yang lebih besar maka kita tentu akan bisa lebih arif melihat itu semua….

[semoga bisa mengingatkan kita...tentang nikmat2 kecil yang menjadikan hidup kita menjadi lebih baik dari orang lain..]

Aufklarung

Advertisement