Hati takkan pernah memperlihatkan dusta pada pemiliknya. Ia hanya menampakkan dorongan murni yang terpendam dalam diri. menunjukkan gambaran paling polos dalam wajah kesederhanaanya.

Namun saat hati bersebrangan dengan “takdir langit” yang menutup setiap celah mengalirnya tetes-tetes perasaan dari hati. Menahan dorongan untuk enggan pergi namun tak mungkin mendekat. paradok ini menghidupkan rasionalitas pikiran yang membisikkan jawaban-jawaban membingungkan yang harus di pilih.

Dan pertentangan hati dan pikiran ini hanya meniupkan badai-badai dalam diri. membawa detik-detik perjalanan ini dalam lembah ketidak pastian. menumbuhkan pengharapan dalam bahtera kecemasan. membesitkan keingin tauan dalam pekatnya kerumitan.

Sedangkan pikiran sedang mencari jalan untuk bersua dengan hati, menyatukan akal dengan kalbu. Mencampur rasa dengan karsa…menyatukan keping kehidupan dan mendorong kaki untuk berani melangkah..

dan Semoga kehidupan itu menjadi lebih indah

Advertisement